Childfree dan Kekhawatiran Kaum Normatif

Posting Komentar
Ikut membeo soal childfree yang sempat rame bulan lalu. Saya sendiri tidak menonton video Gitsav soal alasan dia dan pasangan ingin childfree, jadi ini hanya versi saya.

Sebelum banyak menulis, di awal saya mau menegaskan kalau saya berencana menikah dan punya anak suatu hari nanti. Kalau dipikir-pikir untuk merencanakan soal beranak ini kadang membuat saya tidak percaya diri. Bukan karena hilal jodohnya yang samar, tapi lebih karena pengalaman selama pengasuhan, yang dalam ingatan saya banyak hal yang membuat saya agak terluka. Rasanya khawatir saja suatu saat akan membuat luka yang sama untuk anak-anak saya. Tapi kalau memang menemukan pasangan yang supportif dan memiliki keinginan yang sama dengan senang hati saya akan belajar menjadi orang tua yang baik sepanjang hidup selanjutnya.

 source: Kompasiana


Menarik dari pengalaman masa kecil tersebut, sangat bisa saya pahami jika ada pasangan atau seseorang memutuskan untuk tidak memiliki anak sama sekali.  Setiap orang memiliki pengalaman-pengalaman buruk dan luka batin berbeda-beda yang tidak ingin mereka ulang pada anak-anaknya. Terlebih lagi jika memang kondisinya tidak ideal untuk memiliki anak: ekonomi belum stabil, ataupun secara mental tidak siap.

Disamping alasan-alasan pribadi lain, dua hal tersebut menurutku cukup krusial. Anak-anak yang dilahirkan pada keluarga yang secara ekonomi tidak stabil cenderung kurang percaya diri dibanding teman-temannya. Mungkin tergantung pembentukan karakter pada anak-anaknya juga. Tapi berdasarkan teori kebutuhan Maslow, menurut saya dengan kondisi ekonomi yang kurang stabil, anak-anak juga masih akan terfokus pada kebutuhan paling dasar dan kebutuhan rasa aman. Mereka akan sangat ketinggalan jauh jika disandingkan dengan anak-anak yang kebutuhannya sudah kebutuhan aktualisasi diri. Memang kondisi ekonomi orang tua tidak akan sama dari waktu ke waktu, hanya saja ketinggalan jauh dengan teman sebaya juga akan mempengaruhi perkembangan mental mereka. Jika calon orang tua masih mau fokus karirnya dulu dan tidak berencana atau menunda punya anak menurutku sangat normal.

Kesiapan mental calon orang tua juga tidak kalah pentingnya. Menjadi orang tua adalah menjalankan tugas sepanjang hidup, tidak boleh lelah ataupun mundur di tengah jalan. Melakukan ini sama saja menelantarkan atau meninggalkan tanggung-jawabnya. Untuk menjadi orang tua ini juga tidak ada kursusnya. Masing-masing belajar otodidak dari pengalaman orang di sekitar atau dengan sedikit pengetahuan yang didapat dari bacaan atau sumber lainnya. Ketidaksiapan orang tua mendidik anak-anaknya mulai periode emas hingga ketidakmampuan membaca situasi-situasi krisis pada anaknya juga bisa menimbulkan dampak pertumbuhan atau mungkin permasalahan relasi orang tua-anak. 

Kekhawatiran-kekhawatiran Kaum Normatif

Suatu kekhawatiran yang berlebihan, jika sebuah gagasan childfree dari influencer dianggap sebagai sebuah gerakan. Setidaknya beberapa teman sotoy saya menganggap gerakan, pengaruh budaya barat, dan sebagianya. Bingung juga, hal yang nyata-nyata gerakan seperti KB, vaksinasi, atau misal gerakan pakai masker aja masih banyak yang tidak melaksanakan, apalagi yang hanya sebatas gagasan, yang mungkin saja sewaktu-waktu si pembuat gagasan dapat berubah pikiran. 

Mungkin memang karena gagasan tersebut disampaikan oleh perempuan, sehingga dianggap khalayak ingin menampik kodratnya untuk melahirkan.

Banyak yang akhirnya mengomentari dengan berbagai dalil agama. Mulai dari yang benar-benar paham, atau memang bertujuan menghakimi. Saya percaya, banyak orang-orang yang ingin terus meningkatkan kualitas keimanannya. Tapi untuk hal yang bersifat keputusan pribadi dan sama sekali tidak mempengaruhi kemoralan seseorang hal tersebut cukup berlebihan.

Mungkin karena saya bukan dari agama mayoritas, tidak ada dalil-dalil soal menikah atau beranak dalam keyakinan saya, sehingga saya bebas saja berkata demikian. Tapi hal-hal tersebut sekaligus juga membuat saya lega, agama sudah sepatutnya menjadi landasan-landasan kemoralan, bukan untuk menghakimi seseorang.


PS: sedang badmood, MS. office bajakan saya tiba-tiba non-aktif dan gak punya ide menulis yang lain 😉

Happy Satyani
Saya Happy, ngeblog sejak 2009, beberapa tulisan saya ada di portal jurnalisme warga: https://www.kompasiana.com/happyari https://balebengong.id/author/happy-ari/

Related Posts

Posting Komentar