Suka Duka Menjadi Contact Tracer Covid-19

2 komentar

 Tiga bulan terakhir saya berkesempatan menjadi salah satu Contact Tracer di satu program yang ditempatkan di salah satu Puskesmas di kota Denpasar. Program ini terdiri dari banyak aktivitas, tracing kontak erat pasien hanya satu dari kegiatan untuk mempersiapkan Bali lebih komprehensif lagi dalam penanganan Covid-19. Saya sendiri mengikuti program ini karena pengen merasakan hecticnya berada di garis depan penanganan Covid-19, dan nyatanya benar-benar super hectic. Kebetulan selama pandemi, aktivitas saya sebagian besar dilakukan di rumah. Kebetulan project terakhir berakhir pas pandemi baru mulai, dan belum ada aktivitas yang mengharuskan rutin keluar rumah lagi. Saya juga sudah mendapatkan vaksin dosis pertama saat itu, sehingga merasa sudah aman saja.  

Dua minggu awal masih super santai, dalam satu hari masing-masing contact tracer masih tracing satu-dua indeks; kasus yang dirilis sistem informasi kesehatan yang nantinya akan dicari kontak-kontak erat yang pernah bertatap muka dengan indeks. Kebetulan di tempat bertugas, jumlah contact tracernya sebanyak 5 orang ditambah 2 orang dari program yang saya ikuti. Memasuki minggu ketiga, kasus sudah mulai merangkak, dan puncaknya menjelang akhir Juli. Pada saat itu saya sendiri sedang karantina mandiri, karena saya merasa menjadi suspek, meskipun hasil antigen saya negatif. Beberapa anggota keluarga saya yang hasil swab antigennya positif juga sedang isoman, tapi pada saat yang sama di Puskesmas kasusnya sedang menggila. Teman-teman tracer lain sudah kualahan, sehingga meskipun karantina mandiri juga melakukan tracing dari rumah.

Kegiatan yang dilakukan sebagai contact tracer ini hanya 3 yaitu tracing, testing dan treatment (3T). Jadi setelah memiliki data-data indeks yang sudah dirilis, biasanya rilis ini pada sore hari, salah satu tracer yang mengkoordinir akan membagi jumlah indeks yang ada. Setelah itu tracer akan mengontak indeks untuk menanyakan beberapa hal terkait kondisi indeks, kronologi bisa terkonfirmasi positif dan siapa-siapa saja yang sempat ditemui 2-3 hari sebelumnya. Jika kondisi indeks kurang baik, misalnya sudah muncul sesak, lansia dan memiliki penyakit pemberat akan dirujuk ke rumah sakit.

Setelah cukup jelas, tracer akan meminta data-data kontak erat yang sempat ditemui indeks tersebut dan menjadwalkan untuk testing keesokan harinya. Petugas tracer juga melakukan kunjungan keesokan harinya untuk memastikan kontak erat serumah atau bertanya di lingkungan sekitar seberapa sering kontak dengan indeks. Untuk peraturan terbaru, testing kontak erat ini dilakukan hari kedua dan hari kelima. Asumsinya untuk penularan Covid-19 ini, virus ada yang sudah terlihat pada hari kedua setelah kontak atau hari kelima. Selama menungu tes pertama hingga kedua ini, kontak erat juga diwajibkan karantina mandiri untuk memastikan terputusnya rantai penularan Covid.

Pada saat awal saya bertugas, untuk indeks ini masih diijinkan untuk isolasi mandiri (isoman) karena tempat untuk isolasi terpusat (isoter) terbatas, tapi per awal Agustus 2021, semua indeks yang bergejala ringan harus dibawa ke isoter. Pada saat masih diperbolehkan isoman, petugas tracer juga mendistribusikan logistik seperti vitamin dan obat-obatan sesuai gejala kepada pasien yang isoman. Tetapi, setelah semua indeks bergejala ringan dibawa ke isoter, logistic langsung didistribusikan ke isoter.

                                            Foto: Bonus, foto perpisahan dengan dedek-dedek tracer

Suka dan Duka Contact Tracer

Banyak suka duka selama menjadi tracer, mungkin satu hal yang membuat pekerjaan tracer ini menjadi terasa berarti, setidaknya buat saya, yaitu pada saat ada yang merasa difasilitasi untuk testing, di supply kebutuhan logistic selama isoman atau setidaknya merasa mendapat dukungan psikologis saat isoman. Saya sendiri menyadari saat isoman sekeluarga, kebutuhan selama isoman itu tidak sedikit. Untuk testing mandiri juga waktu itu masih cukup mahal, karena kebetulan malah gak ditracing oleh petugas tracer setempat meskipun sudah melapor. Beli vitamin dan obat-obatan sekeluarga butuh biaya yang tidak murah juga, ditambah kebutuhan logistik lain selama sepuluh harian tinggal dikalikan sejumlah anggota keluarga yang sedang isoman. Jika ada supply logistic seperti obat-obatan dan vitamin tentunya ada yang memang merasa terbantu. Belum lagi ada pasien dengan kondisi khusus, misal, saya pernah mendampingi pasien yang memerlukan perban untuk mengganti perban pada jahitan habis melahirkan atau kondisi khusus atau bisa dikatakan darurat lain, para tracer ini akan dengan sigap merespon.

Dukanya sebenarnya lebih banyak, selain ada tipikal orang-orang yang butuh dukungan logistik atau psikologis saat isoman, banyak juga yang merasa terganggu jika dikontak tracer. Sebenarnya Sebagian besar karena panik, khawatir dikunjungi petugas kesehatan bersama satgas covid-19 desa, khawatir terlihat mencolok di lingkungannya dan takut akan distigma oleh tetangga-tetangganya. Sebagian kecil memang sudah paham dan melakukan testing mandiri, atau memang tenaga kesehatan yang sudah paham penanganan covid-19 ini. Untuk testing, pada saat di awal penugasan, untuk semua konfirmasi Covid-19 masih menggunakan hasil tes PCR. Pada saat itu sungguh sangat crowded, karena di Puskesmas sendiri untuk pemeriksaan PCR masih dilakukan di laboratorium lain, sehingga kadang hasilnya tidak bisa selesai dalam satu hari. Pada masa itu seringkali dikomplain para kontak erat yang ditesting, karena mereka panik atau juga karena ingin segera bekerja jika hasil test negatif. Lainnya kadang juga ada miskomunikasi atau beda pemahaman dengan satgas desa soal karantina dan isolasi mandiri, walaupun gak sampai cekcok, tapi yah cukup menguras energi. Tapi sejak para indeks dikirim ke isoter, masalah ini sudah sedikit berkurang.

Pada akhirnya semua pengalaman yang saya dapat dalam waktu singkat tersebut menjadi pembelajaran yang berharga, sudah lama banget rasanya gak mengurus pasien langsung, ditambah kadang dukungan layanan isoter atau faskes yang tidak bisa maksimal sehingga seringkali dikomplain. Hal tersebut kadang bikin mood kayak roller coaster. Tapi ya senang kembali bergelut dengan aktivitas Kesehatan masyarakat.

Untuk para pembaca sekalian, kalau dikontak oleh petugas tracer, please gak usah panik, jangan khawatir data-datanya disalahgunakan. Yah petugas tracer aslinya Puskesmas gajinya gak besar sih, tapi data kalian aman kok, gak dijual atau dpakai buat apply pinjol.

Terima kasih sudah membaca
Happy Satyani
Saya Happy, ngeblog sejak 2009, beberapa tulisan saya ada di portal jurnalisme warga: https://www.kompasiana.com/happyari https://balebengong.id/author/happy-ari/

Related Posts

2 komentar

Posting Komentar