Tiga Buku Untuk Merayakan Hari Buku Nasional

 Hari buku nasional sudah lewat beberapa hari yang lalu, tapi bagi seorang pembaca setiap hari adalah hari buku. Membaca buku tidak lagi hanya sebuah perayaan, tapi merupakan hal rutin yang menyenangkan. Memang adakalanya kesibukan membuat rutinitas membaca menjadi terjeda, tapi namanya kesenangan meskipun harus membeli waktu akan tetap disempatkan.



Manfaat membaca sudah tak diragukan lagi, sudah banyak tulisan yang mengulas mengenai manfaat membaca buku. Memupuk kesenangan pada diri sendiri dapat menimbulkan perasaan-perasaan positif dan juga merangsang kreativitas, hal tersebut tentu akan menambah produktivitas pada seseorang.

Dalam rangka memperingati hari buku nasional ini, mudah-mudahan membuat kita selalu ingat menyenangkan diri sendiri itu semudah membaca buku. Berikut rekomendasi buku yang hangat untuk para pembaca sekalian.

1.      Selasa Bersama Morrie

Ini merupakan buku terjemahan dari buku Tuesday with Morrie karya Mitchel David Albom atau biasa dikenal dengan Mitch Albom. Buku internasional best seller ini merupakan bacaan wajib yang berisi petuah mengenai perjalanan hidup. Isi buku menceritakan tentang Mitch yang bertemu kembali dengan professor di kampusnya dulu, Morrie Schwartz, setelah dua puluh tahun tak bertemu.

Pada saat mereka bertemu Kembali itu professor Morrie tengah menderita Amytrophic Lateral Sclerosis (ALS). Mitch kemudian berbincang banyak hal dengan Morrie terkait kehidupan seperti kematian, rasa takut, hidup keluarga, komunitas, cara memaafkan dan makna hidup.

 

2.      Titik Nol

Merupakan sebuah buku perjalanan, salah satu karya Agustinus Wibowo. Titik Nol menceritakan perjalanan Agustinus bertolak dari Beijing menuju Tibet, Nepal, India, Pakistan dan Afghanistan. Terinspirasi dengan perjalanan Marcopolo, Titik Nol bukan berisi tentang kunjungan ke tempat-tempat populer, tapi lebih seperti jiarah dan pencarian.

Agustinus dengan sangat detail menarasikan perjalanannya dan merefleksikan hal-hal yang temui sepanjang perjalanan dengan gaya khasnya. Dia juga menambahkan banyak pengetahuan sejarah daripada menggambarkan keeksotisan tempat-tempat yang dikunjunginya. Dia juga lebih mengedepankan interaksi dengan orang-orang yang ditemui dan menggambarkan karakter mereka. Seolah-olah orang-orang tersebut adalah guru kehidupannya. Dari perjalanan panjangnya itu dia juga merefleksikan sebuah kehidupan menuju titik nol, sebuah ujung kehidupan yang sedang dihadapi ibunya.

Agustinus Wibowo sebelumnya selain menulis untuk Rubrik Petualang di Kompas.com juga merupakan jurnalis foto. Jadi di dalam buku Titik Nol juga banyak karya foto-fotonya yang sangat human interest. Selain menulis Titik Nol, Agustinus juga menulis buku berjudul Garis Batas (2011), Selimut Debu (2010 dan Jalan Panjang Untuk Pulang (2021).

 

3.      1984

Satu karya Satire penulis terkenal George Orwell yang diterbitkan di Inggris tahun 1949. Buku ini menceritakan tentang Winston yang merupakan anggota partai Sosing. Dia mengabdi pada Bung Besar dan bekerja di bawah Ministry of Truth. Sehari-hari dia bekerja di bagian berita dan propaganda untuk membentuk opini masyarakat agar sesuai dengan tujuan partai.

Winston awalnya menikmati tugas-tugasnya, tapi kemudian dia menyadari banyak manipulasi yang telah dilakukan hingga publik tidak dapat mengetahui sebuah kebenaran. Dia menjadi muak dengan dengan semua kemunafikan yang dilakukan partai hingga membuat suatu pemberontakan kecil. Dia menulis catatan harian. Setelahnya dia juga bertemu dengan seorang perempuan bernama Julia.

Dia jatuh cinta dengan perempuan itu dan berani mengekspresikan apa yang dipikirkannya dengannnya. Tetapi, rupanya kebebasan ekspresinya tersebut tidak berlangsung lama karena diketahui polisi pikiran (Thought Police). Winston dan Julia ditangkap dan dituduh melakukan kejahatan seks dan kejahatan pikiran. Keduanyapun akhirnya berpisah, dan Winston kembali pada kehidupannya yang sepi. Dia Kembali menyuarakan hal-hal yang dikehendaki Bung Besar.

Karya Orwell ini merupakan kritik terhadap kekuasaan.

 

Tiga buku diatas bukan terbitan baru, tapi masih sangat relevan dibaca kapanpun. Refleksi kehidupan dalam Selasa Bersama Morrie akan menjadi penghangat bagi pembaca semua yang sedang dalam pencarian. Sementara, Titik Nol akan menjadi bekal dan penyemangat untuk banyak petualangan. Selain itu, sedikit lebih serius, 1984 bisa membantu memahami Sebagian kecil dari kehidupan. Iya, hidup gak melulu soal hitam putih, kadang kita sedang digiring ke salah satu sisinya.


PS: ditulis Mei 2021
Happy Satyani
Saya Happy, ngeblog sejak 2009, beberapa tulisan saya ada di portal jurnalisme warga: https://www.kompasiana.com/happyari https://balebengong.id/author/happy-ari/

Related Posts

Posting Komentar