Patriarki dalam Sinetron

 Karena kebagian ngempu bocah secara gak sengaja nonton sinetron tv yang dibiarkan begitu saja

Jadi sinetron itu menceritakan tentang kehidupan rumah tangga suami istri yang memiliki seorang anak. Istrinya bekerja sebagai seorang desainer dan memiliki butik, penghasilannya lebih dari cukup untuk rumah tangganya. Oleh karena itu suaminya tidak diperkenankan bekerja, melainkan mengasuh anak di rumah. Suatu hari, ibu suaminya memutuskan tinggal bersama mereka, konflik pun dimulai. Di sinetron ini dicitrakan seorang perempuan yang bekerja abai dengan anaknya. Kemudian juga congkak pada suaminya serta tidak menghargai suaminya.

Secara gak sadar media memang seringkali memperkuat pengaruh atau budaya tertentu. Budaya patriarki salah satunya. Melalui sinetron semacam itu menggambarkan bahwa wanita yang bekerja adalah ancaman. Padahal tidak seperti itu. Laki-laki dan perempuan yang sama-sama bekerja membentuk kesetaraan, tidak hanya pada sektor pekerjaan itu. Tapi juga akhirnya kesetaraan pembagian pada sektor domestik. Aku lupa, ada tulisan Pram yang kurang lebih menuliskan kesetaraan seperti ini.

Aku ingin merefleksikan kesetaraan dalam pekerjaan ini dengan para petani di kampungku. Jadi karakter orang-orang di daerahku cukup berbeda dengan mayoritas karakter orang Jawa pada hal-hal tertentu. Orang-orang seperti daerah Jawa tengah, Jogja, dan beberapa bagian Jawa Timur seperti Jember, Banyuwangi kota, daerah yang mayoritas Madura, kebanyakan perempuan yang sudah menikah tidak bekerja. (Jangan dilihat orang-orang yang sudah modern ya) menikah seperti menjadi suatu jalan baru untuk memperbaiki ekonomi, mungkin ini juga terjadi di banyak daerah di Indonesia. Menitikberatkan hak-kewajiban suami istri lebih untuk lebih menegaskan hal itu, ya ini mungkin juga semua agama mengajarkannya.

Orang-orang di kampung ku yang mayoritas petani, laki-laki dan perempuan bekerja bersama-sama mengolah sawah hingga memanen hasil. Para perempuan akan istirahat pada musim membajak atau saat melahirkan saja. Cara-cara seperti ini kupikir membuat mereka saling menghargai kerja keras, jadi tidak ada yang merasa terlalu ngoyo dalam sektor domestik atau publik. Cara seperti ini akhirnya juga akhirnya membuat kesepakatan sosial, misal soal hak waris, didaerahku hak waris anak perempuan dan laki-laki sama. Begitu juga pembagian harta gono-gini apabila kedua pasangan memutuskan berpisah. Dan hal yang menurutku penting juga, perempuan memiliki skill mencari materi yahh walaupun cuma petani. Paling tidak ada hal yang bisa mereka lakukan apabila sudah tidak bisa menggantungkan hidup pada suaminya, tidak perlu menjadi perempuan jablay lah.

Jadi, menurutku cara-cara media mencitrakan kehidupan patriarki itu adalah sebuah kemunduran. Media menjadi perantara baru menembus dinding-dinding untuk melemahkan perempuan. Buat mas mas yang cuma kepikiran menikahi istri kemudian bercita-cita membuat istrinya menyiksa diri berdiam di rumah serta berbanyak kali membacakan ayat-ayat yang menegaskan kemaskulinannya, mungkin kalian kebanyakan nonton sinetron.

#33HariBagiCerita #31

note: July 17, 2016

Happy Satyani
Saya Happy, ngeblog sejak 2009, beberapa tulisan saya ada di portal jurnalisme warga: https://www.kompasiana.com/happyari https://balebengong.id/author/happy-ari/

Related Posts

Posting Komentar