Paradoks Hak Perempuan

 Kalau mau menemukan paradoks soal menjunjung tinggi hak-hak perempuan itu gak usah jauh-jauh, di keluarga kita sendiri. Mumpung masih dekat hari perempuan internasional kemarin sempatkan ngeblog soal perempuan dan keluarga.

Suatu kali adik ipar bapakku, yang berarti pamanku mengatakan "keluarga kita ini matriarki, kalau mau nikah dari pihak perempuan harus hal-hal yang menjadi fokusnya, bla bla bla..." Padahal aslinya, kami keluarga biasa seperti tetangga pada umumnya untuk semua keputusan dibuat oleh kepala keluarga dan anak laki-lakinya. Suatu hari pamanku yang lain bilang, "anak gadis gak boleh seperti ini, seperti itu, gak elok namanya...," suatu kali lagi komentar yang agak pedas (entah karena aku lagi baper) saat aku posting yang sepele "gimana caranya buat anak seperti ini?" baginya anak gadis yang belum menikah tabu menanyakan hal-hal seperti itu di publik.

Disisi yang lain, nenekku selalu dapat menjadi teladan cucu dan anak-anaknya dalam mempertahankan haknya sebagai perempuan di keluarga. Suatu kali dia bercerita kakekku pernah sekali menamparnya karena hal sepele pada saat anak pertama nya masih umur beberapa bulan. Saat itu juga nenekku mempertaruhkan perkawinannya, dia menantang kakekku kalau tidak dapat mengubah sifat buruknya yang memperlakukan dengan kasar dia minta cerai saja. Bukan contoh yang terlalu baik, tapi setidaknya nenekku mengajarkan perempuan di keluarga kami untuk sadar menempatkan posisinya. Pada perihal mencari nafkah, nenekku juga bukan tipikal perempuan yang ongkang-ongkang kaki menunggu suami pulang dan tinggal di rumah saja. Nenekku sejak dia masih muda ikut kakekku membuka huma, mencari bambu hutan, dan tanam di sawah. Secara tidak langsung ini menurun ke anak cucunya untuk turut bekerja keras bersama suaminya.

Pada saat kakekku sudah meninggal, nenek juga masih menjadi perempuan yang menghargai dirinya sendiri, menolak beberapa lamaran (katanya) dan memilih tidak berikatan dengan laki-laki lain dengan alasan kebutuhan fisik. Meskipun di sisi yang lain banyak juga hal-hal minor yang tidak adil untuknya sebagai perempuan di keluarga.

Aku mau bilang, soal hak perempuan, salah satunya hak untuk ngomong dan mengekspresikan diri kadang sudah dibatasi sejak dari keluarga. Contohnya di keluargaku, kakekku paling tidak suka anak-anaknya yang sebagian besar perempuan nyanyi-nyanyi. Setelah udah besar, ya ada sih bibiku yang tetap tumbuh normal tetapi ada juga yang benar-benar selalu memposisikan dirinya sebagai abdi suami alih-alih mengekapresikan hal-hal yang diinginkannya.

Selain pembatasan untuk mengekspresikan diri juga masih banyak hal-hal lain yang terus menjadi petuah-petuah semacam, "sebagai perempuan harus..., sebagai perempuan duduknya jangan begini, sebagai anak gadis gak boleh begini...dst.' nanti kalau sudah lebih dari 20 tahun terus ditanyai, "kamu perempuan, mau menikah umur berapa...blabla (kok jadi sampai sini ya)

Ya, setidaknya hal-hal di keluarga itu terus dibawa oleh si perempuan. Dan ketika telah memiliki keluarga sendiri tak sedikit yang membawa hal-hal yang telah diperoleh itu untuk diajarkan kembali pada anak-anaknya. Ibaratnya itu akan menjadi siklus bila tak diputus dengan pemahaman-pemahaman baru.

Nah, tapi siklus itu juga gak semudah diputus dengan pemahaman. Banyak kok dari perempuan yang paham soal persamaan haknya, tapi dia memilih mengikuti arus, melanggengkan budaya patriarki dengan kesadarannya. Contoh, minta dinikahi (kok ngomongin diri sendiri sih), minta dibayarin cowoknya, ngomong besok kalau udah nikah gak mau kerja. Apalagi ya, menempatkan pihak cowok untuk menentukan keputusan, selalu minta maaf dan mengaku salah kalau cowok lagi ngambek, padahal belum tentu salah.

Setidaknya itu hal-hal sepele bagi seorang perempuan yang mulai tidak merawat hak-haknya.


Denpasar, 10 Maret 2018

Komentar

Postingan Populer