Beberapa Daftar Beasiswa Dalam-Luar Negeri

 Pada hari minggu yang cerah ini tahun pikiran mengembara kemana-kemana, tidak ada rencana bepergian dan sedang malas-malasnya mikir dunia. Kali ini sedang pengen berbagi link beasiswa yang punya konsen ke kesehatan berdasarkan info dari berbagai sumber. Dari awal berburu beasiswa kurang lebih 2-3 tahun terakhir, aku selalu terlambat dapat info, semoga link-link berikut ini dapat membantu para beasiswa hunter, beberapa sudah lewat, beberapa masih buka.

1. Beasiswa LPDP

https://www.lpdp.kemenkeu.go.id

Ini beasiswa dari Indonesia tercinta yang sejak dua tahun terakhir persyaratannya makin nambah dan nambah. Ada beberapa jenis beasiswa disana mulai dari master, Phd, tesis, dokter spesialis, ataupun riset. Kategorinya juga ada beberapa, ada yang dibuka untuk umum (yg ini yang terus nambah persyaratannya) dan beasiswa afirmasi untuk daerah tertentu yang tertinggal, lulusan berprestasi, dan yang baru untuk santri kalau gak salah.

Dari sejak kepengen daftr LPDP tahun 2015 baru dapat kesempatan tahun 2018 ini mendaftar. Persyaratan administrasinya relatif mudah (scan certificate, transcript, dua esai satu kontribusi yang sudah dilakukan untuk Indonesia dan rencana study, rekomendasi, sertifikat kemampuan bahasa dan yang agak mahal buat surat keterangan bebas narkoba, surat keterangan sehat dan surat bebas TBC dari rumah sakit pemerintah. Semua sudah ada template dan poin-poin yang harus disampaikan ada di panduan pendaftarannya.

Pengalaman tahun 2018, sangat mudah buat lolos administrasi, feelingku sih esai juga belum di cek di tahap ini. Tapi tahun lalu ada tes berbasis komputer, kata seorang konsultan pendidikan luar negeri, tahapan ini bisa menyeleksi hampir setengah dari yang lolos seleksi administrasi. Oke, aku juga gagal di tahap ini, karena writing on the spot diketik langsung via komputer, dengan modal writing skor 5.5 membuatku gagap menghadapi ini. Padahal tema nya tentang JKN harusnya gak susah-susah amat, dibanding mommy, temenku kursus di Pare, waktu seleksi beasiswa santri dapat tema tentang pertambangan ilegal. Kalau bisa lolos tahap ini, bisa lanjut ke tahap seleksi selanjutnya yaitu wawancara, LGD dan verifikasi berkas.

Oh, ya satu lagi, tahun ini untuk kampus tujuan beasiswa lpdp yg untuk umum list nya kampus rangking 50 tertinggi, jadi persiapkan baik-baik kalau mau daftar tahun 2019. Btw, beasiswa lpdp juga dibuka untuk dalam negeri dan luar negeri.

2. chevening

Nah, sebenarnya beasiswa ini sudah tutup. Biasanya dibuka selama tiga bulan, dari Agustus-November. Modalnya cuma ngisi empat esai aja sebenarnya. Syarat-syarat lainnya bisa dilengkapi setelah lolos beasiswa. Aku dua kali mendaftar beasiswa ini, baru tahun ini ngerti kelemahanku. Kelemahanku di esai tahun lalu yaitu aku gak bisa menggambarkan dengan jelas apa rencanaku jangka panjang atau jangka pendek secara real dan jawaban memilih kampus tujuanku terlalu dangkal. Harusnya esai memilih kampus tujuan dan rencana kedepan ini menjadi korelasi. Dua esai lainnya cuma terkait kepemimpinan dan influence. Oh, ya beasiswa ini diberikan oleh pemerintah UK, jadi pastikan di esai rencana setelah lulus disesuaikan dengan konsen-konsen UK di Indonesia. Universitas tujuannya hampir semua universitas di UK. Pada beasiswa ini juga memberi syarat untuk pendaftar minimal memiliki pengalaman bekerja selama dua tahun. Ada perbedaan juga untuk rekomendasi pada tahun ini dan sebelumnya, tahun ini pemberi beasiswa akan mengontak langsung list pemberi rekomendasi yang sudah kita cantumkan. Surprisingly, pertengahan Januari lalu aku terima email kalau longlisted untuk lanjut ke tahap selanjutnya, meskipun masih nunggu nasib surat rekomendasi.

3. Fulbright

Beasiswa ini diberikan oleh pemerintah USA dan ini salah satu beasiswa bergengsi. List konsen nya sepertinya ditentukan, kebetulan aku gak punya info detail terkait beasiswa ini. Untuk bidang kesehatan sepertinya spesifik banget terkait rencana studi nya. Aku memutuskan gak coba daftar beasiswa ini, karena belum punya keinginan kuliah ke USA. Belum tahu kalau tahun depan.

4. SIGP (Beasiswa Swedia)

Ini beasiswa dari pemerintah Swedia, nama sebelumnya beasiswa SISS. Syarat pendaftaran utama nya harus memiliki pengalaman kerja 3000 jam, kurang lebih 2 tahun juga. Untuk kuota nya sedikit banget, karena bersaingnya dengan negara-negara di Afrika, Amerika dan beberapa negara Asia. Tahun lalu yang lolos dari Indonesia hanya 13 orang, tahun sebelumnya lebih banyak sekitar 20 orang. Untuk tahun ini ada perubahan skema, awalnya dulu beasiswa untuk 140 negara berkembang di Asia, Amerika, dan Afrika, sekarang hanya untuk 34 negara, kemungkinan jumlah kuota awardee per negara nambah. Untuk biaya-biaya yang dicover juga lebih tinggi dari tahun sebelumnya, mungkin karena biaya hidup atau mungkin inflasi yang juga tinggi.

Dokumen-dokumen pendukung lainnya esai berjumlah empat yang isinya hanya sekitar 250 an character jaman dulu, Bayangin kamu mau nulis mimpi cuma kayak lagi ngetik di twitter. Tahun ini kayaknya cuma dua esai, tentang potensi dan kontribusi dalam engage community dan social development. Aku daftar dua kali, tahun 2017 dulu lolos tahap pertama, lalu gak lanjut tahap kedua karena Ielts belum tercapai. Btw, pada tahap pertama itu yang paling inti cuma nulis rencana setelah lulus, cuma ada juga temenku yang gak lolos. Tahun 2018 daftar juga, hanya ada satu tahapan tahun ini, kesalahan tahun lalu adalah masih maksa daftar, padahal sudah tahu skor ielts dibawah standar. Yang agak sedikit ngerepotin dari beasiswa ini adalah mengurus proof work dan leadership proof, tapi apa boleh buat, ini gak ada seujung kuku dibanding kesempatan yang akan kita dapatkan kalau bisa lolos beasiswanya.

Untuk tahun ini fokus beasiswa untuk SDGS, biasanya pas awal-awal januari akan muncul template esai dan segala pirantinya. Sedangkan untuk beasiswa nya akan dibuka tanggal 4 - 14 Februari nanti, tapi pendaftaran kampus sudah ditutup pertengahan Januari lalu.

5. Beasiswa Hungaria

Nama basiswanya Stipendum Hungaricum, aku tahu beasiswa ini dari pergaulan per Parean. Beasiswa di buka dari November 2018 - 15 Januari 2019. Alumni TEST english school tempat aku kursus dulu beberapa diterima beasiswa ini. Semua info ada di link judul tersebut. Persyaratannya relatif mudah, yang agak ruwet cari surat keterangan sehat, bebas hepatitis A, B, dan C, bebas HIV dan infeksi lainnya (yang disebutin spesifik sih hepatitis dan HIV aja), tapi kalau ada tes rontgen. Syarat lainnya standard, ijazah dan transkrip yang udah ditranslate, paspor, IELTS 5.5 di beberapa program dan motivation letter. Semua itu bisa disusulkan kecuali motivation letter. Daftarnya segampang ngisi form aja, hanya yang paling berat bikin motivation letter.

Aku sendiri tahun ini daftar setelah menimbang dan diskusi dengan beberapa orang. Kalau dilihat dari beasiswanya sih tidak se-bergengsi lainnya, untuk jurusan kesehatan masyarakat sendiri hanya ada satu pilihan untuk calon mahasiswa dari Indonesia, yaitu di University of Debrecen. Ranking universitasnya sendiri setingkat UI dan UGM, ranking 400 an gitu. Tapi pertimbangan lain, ya tetep itu sekolahnya di jantungnya Europe, yang standarnya mesti beda, tapi khusus yang di Debrecen ini jurusannya public health umum, bukan specialis.

Oh, ya untuk beasiswa ini tiap negara beda-beda jurusan yang ditawarkan, mungkin tergantung kerjasama luar negerinya. Ada jurusan lain sih dibidang kesehatan sosial aku gak paham banget kalau di Indonesia diaplikasikan bakal lebih spesifik ke apa, ada juga jurusan psikologi dan untuk S1 kayaknya ada kedokteran juga. Jurusan-jurusannya banyak yang ke bidang teknik dan science murni. Untuk study lanjutannya bisa untuk master, Phd, dan ada program khusus. Alasan daftar ini sebenarnya untuk back-up aja, tapi tetap kok setelah administrasi masih ada step-step lanjutannya seperti direkomendasikan atau gak dari DIKTI dan ada wawancara juga, jadi belum tentu lolos. Untuk pilihan kampus sebenarnya bisa pilih dua kampus/ jurusan yang berbeda, tapi aku cuma pilih satu karena gak punya pilihan lain.

6. Beasiswa Vlir Uos

Ini beasiswa Belgia, tapi hanya di negara bagian Flanders. Untuk fokusnya sih di penguatan riset untuk negara-negara berkembang. Untuk tahun ini jurusan yang ditawarkan untuk bidang kesehatan masyarakat hanya jurusan epidemiologi. Untuk beberapa tahun lalu ada jurusan Gizi nya juga. Kampus untuk jurusan epidemiologinya juga spesifik di University of Antwerp. Beasiswa ini masih dibuka, untuk jurusan kesehatan masyarakat dibuka sampai 15 Februari nanti, jurusan lainnya berbeda-beda, rata-rata sampai Maret kalau gak salah. Kuota nya gak banyak sih, tapi kalau syarat lengkap kemungkinan besar keterima, dan cerita-cerita di blog lain sih katanya tanpa wawancara. Untuk biaya yang dicover lumayan tinggi dan dicover juga kalau membawa keluarga saat study. Kemarin rencananya daftar, tapi patah hati karena ternyata skor IELTS yang diminta untuk writing minimal 6. Lagipula juga sedang kepikiran mau minta rekomendasinya. Untuk syaratnya sih ada motivation letter, CV, paspor, sertifikat kecakapan bahasa, ijazah, transkrip dan untuk pendaftaran kampus perlu rekomendasi juga. Untuk pendaftaran di satu portal, relatif gampang, yang gak gampang minta rekomendasinya. harus super tebel muka

7. Beasiswa Prince of Songkla University

Beasiswa Prince of Songkla ini di Thailand, utuk besaran beasiswa nya silakan kunjungi web langsung. Untuk persyaratannya tidak rumit, IELTS 5.5, CV, transkrip nilai, medical certificate, ijazah, rencana study dan paspor. Si pemberi beasiswa sih lebih suka bidang penelitian yang bisa melakukan pengambilan data di Thailand gitu kayanya. Beasiswa ini menawarkan beasiswa untuk master dan Phd, untuk jurusan kesehatan masyarakat yang ada jurusan Msc epidemiologi. Untuk Februari ini kayaknya belum di publish pembukaan beasiswa nya. Untuk beasiswa ke Thailand sih banyak sebenarnya, ada dari pemerintahnya langsung dan ada beberapa dari universitas, jurusannya juga oke-oke banget sangat aplikatif ketika balik ke Indonesia.

8. Beasiswa TDR Postgraduate in Implementation Research

Ini beasiswa bergengsi banget menurutku untuk yang kepengen fokus dibidang riset setelah ini, beasiswa yang diberikan WHO untuk melakukan implementasi riset. Pendidikan masternya bakal berlangsung di Universitas Gajahmada, jurusan public health international. Untuk gelarnya bukan MPH sih tapi MSc, tapi kan keren. Kebetulan beasiswanya baru dibuka dan ditutup 24 Maret nanti, aku sendiri sedang menimbang-nimbang siapa kira-kira yang mau kumintai rekomendasi. Untuk persyaratannya yaitu warga negara di negara low-middle income country, berusia dibawah 35 tahun, GPA minimal 3, TOEFL 550, tapi IELTS 5.5 (Gatau gimane bandinginnya, mestinya 6.5 sih kalau toeflny segitu) dan ijazah+transcript. Untuk warga negara Indonesia pendaftaran ke UGM standar, perlu tes TPA juga sebelumnya. oh ya, yang paling penting motivation letter dan surat rekomendasi yang bakal diminta langsung ke pemberi rekomndasi.

Untuk Info beasiswa yang aktif ku update informasinya hanya sebatas itu, sebetulnya mau nulis itu semua rencananya bulan Desember lalu saat lagi di Depok, tapi keburu liburan dan males akhirnya baru bisa diselesaikan kali ini. Informasi yang kuperoleh dari berbagai sumber, untuk kebenarannya silahkan cek langsung di web resmi, karena bebeapa yang aku tulis hanya berdasarkan ingatan, males cek lagi. :-P

Ngomong-ngomong mempersiapkan persyaratan-persayaratan beasiswa ini lumayan menguji keteguhan hati juga. Kalau awal-awal baru persiapan IELTS galaunya cuma buat ningkatin skor. Tapi pada saat pendaftaran ini kamu diuji dengan segala tetek bengek rekomendasi yang belum tentu akan diberikan oleh orang yang kamu harapkan bisa ngasih, sebenarnya tergantung kualitas orangnya juga sih, misal pekerjaanku mungkin dulu ga bagus-bagus amat jadi mantan bosku ragu mau kasih rekomendasi ke aku, atau mereka pamrih berpikir aku gak terlalu banyak berkontribusi sebelumnya, jadi aku harus melakukan beberapa syarat. Atau dosen pembimbingku udah males balas email, gara-gara aku meminta satu kali rekomendasi dan memburu-buru padahal yang salah sebenarnya aku. Selain itu juga perlu buat motivation letter yang menjadi salah satu penentu, dan itu gak akan bisa terwujud dengan baik kalau kamu sedang gak fokus. Sejauh ini untuk motivation letter aku masih suka mepet-mepet buatnya, jadi hasil mungkin akan mengikuti ya, tapi semoga selalu ada keajaiban (tetep gitu doa manusia). Tapi ya yakin dan percaya, bahwa usaha akan sebanding dengan hasil, jadi gak perlu khawatir atau patah hati jika gak dapat rekomendasi, cari orang yang benar-benar mengenalmu dan memahami tujuanmu pengen lanjut study. Cukup sekian tentang semua, nanti diupdate lagi kalau ada informasi baru.

Oh ya, waktu masih baru baru lulus aku mengenal seorang pejuang beasiswa yang aktif berbagi soal info beasiswa yang pernah dia dapatkan, orangnya emang keren banget juga, tentunya beasiswa tersebut layak beliau dapatkan. Pada saat itu karena kesinisanku aku pernah nyeletuk, bahwa si Bapak opportunis. Awalnya dia pengen banget dapat beasiswa A, tapi dia mencoba segala cara, berbagai beasiswa malah dapat beasiswa B. Dan akhirnya itu yang membuat si bapak mendapat peluang lebih maju. Aku pengen bilang, ternyata itu ilmu dari semua beasiswa hunter, manfaatkan sertifikat kemampuan bahasamu selagi masih berlaku, bayar tes nya mahal dan butuh kerja keras buat dapatkan itu. Cobalah sebanyak mungkin probability untuk mendapatkan seluas mungkin kesempatan. Tentunya tidak semua beasiswa bisa mengakomodir kebutuhanmu, tapi peluang yang sama bisa didapatkan dengan bersaing dengan para pelamar. Mungkin kamu opportunis dalam mencari beasiswa, tapi jangan opportunis dapat beasiswa cuma untuk dirimu sendiri, setidaknya manfaatkan beasiswamu buat berkembang seluas-luasnya sehingga bisa berkontribusi dari bidang ilmu yang kamu dapatkan. Sekian semoga bermanfaat.

PS. Ini tulisan lama, hanya baru dirampungkan hari ini

Happy Satyani
Saya Happy, ngeblog sejak 2009, beberapa tulisan saya ada di portal jurnalisme warga: https://www.kompasiana.com/happyari https://balebengong.id/author/happy-ari/

Related Posts

Posting Komentar