Akhirnya IELTS 6.5, bisa!

 Sebagai anak dusun yang masa kecilnya baru dapat pelajaran bahasa inggris kelas 6 SD dan gak punya biaya buat kursus selama SD-SMA, dapat IELTS 6.5 nipis itu rasanya sudah luar biasa.

Sejak lulus kuliah dan merasakan kejamnya per-project an di tahun pertama-kedua di dunia kerja, keinginan untuk memperdalam bahasa ini mulai tumbuh. Awalnya aku belajar TOEFL, tapi karena tidak mendapat titik terang setelah belajar sendiri, akhirnya aku berubah haluan sejak awal tahun 2016.

Jadi apa bedanya IELTS dengan TOEFL? Kurang lebih kalau IELTS itu acuannya british english sedangkan TOEFL acuannya American English. Secara struktur dan vocab sih tidak banyak perbedaan, hanya prononciation nya cukup banyak yang beda. Tapi bagiku British English itu lebih enak ditelingaku, maksudku pada level bahasa inggrisku saat itu, si IELTS ini lebih mudah dipelajari dalam kondisi grammarku yang masih kacau sekali. Secara model soal untuk menilai kecakapan bahasa inggris, keduanya sangat berbeda. Dan, akhirnya aku teruskan belajar IELTS.

Awal tahun 2016 itu, jadilah aku mulai mencari-cari bentuk pembelajaran yang sesuai dengan searching sana-sini dan tanya teman-teman dan mengumpulkan bahan-bahan. Teman memberikan link bahan untuk improve skill ataupun IELTS Cambridge untuk latihan agar lebih familiar dan merekomendasikan web Kikyedward.com untuk menjadi panduan. Jadi, mbak Kiky itu orang Aceh yang pada tahun-tahun tersebut share persiapan beasiswa ke luar negeri mulai dari mempersiapkan apply sampai persiapan tes IELTS dengan belajar mandiri, web itu sampai saat ini masih jadi acuan beberapa pejuang beasiswa yang pernah kukenal.

Saat itu ada juga yang menyarankan aku untuk ambil kursus persiapan sebenarnya, hanya saja gak punya cukup uang untuk kursus di lembaga formal. Tapi saya tetap mengikuti saran beliau untuk ikut placement test ke IALF, dan hasilnya level bahasa inggris masih pre-intermediate 3, untuk ambil persiapan saja belum cukup, minimal harus memiliki IELTS 5 atau diatas intermediate 3. Jadi kalau saat itu ingin ambil kursus persiapan, maka harus ambil 3-4 level kursus di IALF dulu dengan durasi masing-masing level 2.5 bulan.

Cukup panjang mikir waktu itu sampai akhirnya kursus pada teman yang kebetulan bersedia membantu. Setelah memutuskan untuk tes pada awal tahun 2017 aku juga ambil kelas persiapan di satu lembaga kursus sekaligus konsultan pendidikan. Waktu itu baru mulai tahu cara mendaftar beasiswa SISS dan Chevening, tapi akhirnya batal ngelamar keduanya sih, karena IELTS cuma 5.

Gak lama setelah ambil kursus itu kebetulan kontrak kerja selesai, jadi saat itu sempat punya waktu buat ambil kursus di Pare, Kediri. Lumayan sih improve dikit grammarnya dan jadi terlatih writing juga, hanya saja improve skor overall tidak terlalu tinggi. Setelah dari Pare sibuk banget urusan project, tapi Desember 2017 harus ambil tes lagi karena mau serius daftar beasiswa Swedia. Eh, ternyata usaha pasti sebanding dengan hasil, ya hasilnya hanya naik 0.5 saja jadi 5.5.

Nah, kemarin bulan Agustus memaksakan diri buat mempersiapkan IELTS dengan sungguh-sungguh. Setelah selesai kontrak kerja per Juni dan langsung balik ke Bali, hanya masih males-malesan, sampai akhirnya 3 Agustus kemarin baru mulai intensif belajar. Jadi pola belajar kemarin hanya belajar cambridge 6-10 dan belajar buku improve vocab nya Barron. Selain belajar mandiri aku juga ambil persiapan IELTS di TBI yang otomatis menggunakan buku Cambridge, kebetulan aku satu level dengan level A2, jadi pakai buku dengan level bahasa inggris 4.5-5.

Persiapan untuk tes kemarin memang lebih serius dari sebelumnya, termasuk bikin target-target sesuai saran seorang teman yang menjadi dosen di UI. Bahkan untuk reading aku menargetkan 8.5 buat mendongkrak skill yang parah-parah. Dan pada saat menerima hasil, ternyata gak jauh-jauh dengan target. Bahkan, hasilnya sangat mirip dengan prediksi hasil belajar di TBI.

Akhirnya, dengan perjuangan selama dua tahun lebih terakhir membuahkan hasil, yang meskipun gak tinggi amat tapi tetap membahagiakan. Persiapan IELTS itu cukup berat, kadang kita bahkan tidak terlalu yakin apakah kita bisa meraih target-target yang kita buat sendiri. Apalagi kalau lingkungan sekitar gak support tentunya kita cepat sekali goyah, tapi kalau lingkungan sekitar cukup memahami keinginan kita, bisa jadi kita cukup tenang mempersiapkan segalanya.

Dan setelah IELTS tercapai rasanya lega, karena bisa mikir yang lain atau naik ke level persiapan-persiapan yang selanjutnya, karena bagaimanapun IELTS tiket pertama buat cari beasiswa ataupun daftar kampus.

Ps.nanti rencananya akan bikin catatan lain terkait tips persiapan IELTS yang lebih detail.

Happy Satyani
Saya Happy, ngeblog sejak 2009, beberapa tulisan saya ada di portal jurnalisme warga: https://www.kompasiana.com/happyari https://balebengong.id/author/happy-ari/

Related Posts

Posting Komentar